-
14
Jan
Sudah lama saya tidak berkomunikasi dengan orang bisu. Nah, beberapa hari kemarin aku diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan mereka lagi.
Cerita pertama:
Di suatu sore yang cerah, datanglah dua cewek (cakep lho, hehe
) di konter Hp-ku. Cewek pertama (sebut saja namanya ‘Dewi’, kalau ‘Bunga’ nanti dikira korban apaan
) senyam-senyum sambil menunjuk-nunjuk daftar harga di dinding. Saya spontan menyambut dengan sapaan ramah: “Silakan, Mbak. Mau isi lagu?”
Si Dewi malah makin senyam-senyum dengan bahasa tubuh yang seperti malu-malu. Lha, saya malah jadi salah tingkah dan terus mencoba menanyakan apa mau si Dewi itu. Kemudian datang teman ceweknya (sebut saja ‘Laras’). Akhirnya si Dewi bersuara. Tapi bunyinya cuma “Ah! Eeh!” sambil memainkan jari-jemari tangannya.
Nah, nah! Ternyata mereka bisu. “Kok punya HP?” begitu pikir saya seketika. Lalu si Laras memperlihatkan galeri foto di Nokia 7610-nya. “Oh! Mau cetak foto?” sudah tahu mereka bisu tapi tetap saya ajak ngomong
. Saya tunjukkan salah satu foto hasil cetakanku untuk memastikan. Mereka membalas dengan manggut-manggut.
Si Laras menunjukkan menu transfer gambar lewat bluetooth di HP-nya. Kemudian menunjukkan ukuran foto yang mau dicetak. Kemudian… (cerita dipercepat) …
Dalam keadaan demikian, otomatis kebanyakan bentuk komunikasi yang kami lakukan adalah dengan bahasa tubuh atau bahasa isyarat. Misalnya waktu saya mengatur penempatan foto-foto, si Laras memberi tanda agar antar foto diberi jarak. Atau menggunakan tulisan. Misalnya, untuk berbasa-basi sayamenulis “SLB?” (maksudnya aku tanya, “dari SLB ya Mbak?”). Waktu mereka mau pulang, si Laras menunjukkan tulisan “HAPUS” di telapak tangannya (yang artinya, “Tolong foto-foto kami dihapus dari komputer!”).
Dari rok yang dipakai Dewi, saya menyimpulkan bahwa SLB mereka setingkat SMA.
Cerita pertama selesai.
Cerita kedua:
Hari berikutnya… Di suatu pagi yang cerah, turunlah seorang anak (ganteng juga lho.. hehehe
Tapi saya jangan dibilang maho!) yang masih berpakaian seragam SMP lengkap dari sepedanya. Sebut saja namanya Hardi (kalau Agus terlalu pasaran. Hehehe… Peace buat yang bernama Agus).
Si Hardi begitu datang langsung melihat-lihat deretan kartu perdana. Saya langsung saja bertanya, “Mau beli perdana, Dik?” Si Hardi tetap diam sambil terus memperhatikan para kartu perdana yang terbaring pasrah menunggu dibeli. Saya jadi salah tingkah karena tidak mendapat respon sama sekali.
Dan akhirnya, seperti cerita pertama, keluarlah suara si Hardi. Dan tahulah saya kalau dia bisu. Anak sekolah bisu dari mana lagi kalau bukan dari SLB? Mungkin si Hardi datang ke konter HP-ku atas referensi si Dewi dan si Laras.
Percakapan selanjutnya tentu saja memakai bahasa isyarat, meski mulut saya juga tetap bersuara. Misalnya waktu saya tanya, “Kartunya diaktifkan di sini?” sambil tangan saya menunjuk sakunya (siapa tahu dia menyimpan HP di situ). Ternyata HP dia keren juga lho, Nokia 6680.
Cerita kedua selesai.
Pelajaran dari cerita di atas…
- Ternyata kehidupan orang tunawicara atau bisu tidak jauh berbeda dengan orang kebanyakan.
- Meski dikatakan tidak normal, namun itu hanya sebatas cara mereka berkomunikasi saja. Yang penting otaknya masih normal
- Sering kali orang bisu (atau orang cacat jenis lainnya) mendapat diskriminasi di masyarakat. Saya sangat menyayangkan keadaan ini. Marilah kita tetap me-manusia-kan teman yang memiliki kekurangan fisik.
- Orang cacat fisik yang sering mendapat perlakuan diskriminatif bisa memungkinkan dia juga menjadi cacat mental karena stres, dan sebagainya.
- Yang paling penting: Bersabarlah jika berkomunikasi dengan penderita cacat fisik!
Semoga tulisan ini bermanfaat. Kritik dan saran diterima
Incoming search terms for the article:
orang bisu, artikel tentang orang bisu, apakah orang bisu bisa di proses, sekolah untuk orang bisu, sekolah anak penderita bisu, orang cacat bisu, komunikasi orang bisu, komunikasi dengan orang bisu, gambar dan cerita orang cacat fisik, foto anak bisu2

